Berharap Bagian Dari Timnas Asean Games

Sea Games 2017 Kuala Lumpur Malaysia merupakan momen terindah dan menjadi kenangan yang tak akan terlupakan bagi Megawati Hangestri Pertiwi, salah satu atlet bola voli putri kebanggaan Kota Surabaya. Dimana saat laga semi final ia didaulat untuk menjadi motor serangan bagi punggawa Timnas Putri Indonesia kala bersua Tim kuat Vietnam. Sayangnya laju menuju tangga juara harus terhenti ditangan tim gajah putih Thailand dan menempatkan tim putri Indonesia di posisi kedua.

Seakan tak percaya namun itulah yang terjadi, keberangkatannya pada even internasional mulanya hanya sebagai pemain pelengkap (cadangan). Akan tetapi diakhir perjalanan ia malah terpilh sebagai pemain utama bahkan mampu membuktikan diri sebagai pedulang poin terbanyak saat berlaga di semi final.

“Saya menunggu begitu lama untuk segera diturunkan, namun tak kunjung datang kesempatan itu. Namun disaat poin keritis tiba-tiba pelatih Risco Herlambang menujuk saya untuk bermain. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan dan akhirnya kami mampu mengatasi perlawanan sengit Vietnam,” terang Megawati.

“Saat pertamakali turun saya demam panggung, tapi hal itu saya tepis seketika teman-teman memberikan motivasi dan kepercayaannya,” tambahnya.

Dalam Timnas yang berlaga di negeri jiran Malaysia, gadis kelahiran 20 Spetember 1999 Jember, Jawa Timur ini terbilang yang paling tinggi diantara rekan-rekan setimnya. Karena tinggi badannya yang cukup ideal oleh pelatih dirinya ditapuk sebagai bloker dan open spike.

“Tinggi badan saya 185cm dan terbilang cukup tinggi diantara teman-teman setim lainnya. Pelatih pun awalnya menunjuk untuk menjadi bloker namun bila ada kesempatan saya wajib menjadi pemukul,” ucapnya.

Putri ketiga dari tiga bersaudara pasangan Maksum dan Siti Muhanah, mengaku mengenal olaharaga Bola Voli Sejak dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Awalnya pun perkenalan dengan olahraga ini hanya dilantari rasa iseng. Karena saat itu dirinya terlebih sudah mengenal dan menekuni olahraga sepakbola.

“Rasa iseng disebabkan karena perintah kedua orangtua, terutama papa yang begitu getol agar saya beralih ke olahraga bola voli. Mungkin karena perawakan saya yang tomboy sehingga papa dan mama menjadi khawatir. Eh nggak tahunya lama kelamaan jatuh cinta juga saya dengan olahraga ini,” selero gadis berusia 18 tahun ini saat ditemui disela-sela latihan di GOR AWS Surabaya.

Dalam perjalannya menggeluti bola voli, Mega begitu sapaan akrabnya tidaklah mulus dan bolak-balik berganti klub dan diawali dengan V3 (Vini Vidi Vici), tak seberapa lama pindah ke klubVidoh. Disaat bersamaan dirinya terpilih sebagai wakil Kabupaten Jember di O2sn dan memjadi duta Jatim tahun 2013 di kota Samarinda, Kalimantan Timur.

“Alhamdullah berhasil menjadi juara pertama, sehingga papa dan mama begitu gembira dengan apa yang saya capai,” kenangnya.

Capainya yang didapat ternyata membuahkan hasil yang manis, dengan datangnya tawaran dari beberapa klub ternama yang ada di Jatim seperti Bank Jatim dan Petrokimia Gresik.

“Namun jatuh pilihan saya ke Bank Jatim, dan saat itu masih duduk dikelas 3  SMPN 1 Jember dan di Surabaya berlabuh di SMPN 29 Surabaya,” ujar Mega.

Saat dibangku SMAN  20 Surabaya, Mega  juga menjadi bagian yang terpisahkan bagi tim sekolahnya. Pada setiap even dan kejuaraan yang membawa nama sekolah dirinya selalu mengisi daftar utama.

Gadis berparas ayu ini juga memaparkan bahwa dirinya sempat punya keinginan untuk menjadi abdi Negara sebagai anggota Polwan. Namun seiring perjalanan waktu cita-citanya dimasa kecil ini pun turut hilang dimakan waktu.

“Saat ini yang saya pikirkan hanya fokus pada Livoli dan Proliga. Bila kesampaian saya berharap berlaga Asian Games akan datang,” pungkasnya. Riki arfandi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *